Sabtu, 07 Februari 2009

i call you , love

bab pertama novel kuhh... read n cry for this, jahahahhaaa...

-sisi gelap-


“kamu jahat!!”

Kata-kata itu terus terngiang di benakku,saat mengatakan aku harus pergi jauh darinya. Dia memang sudah terbiasa dengan keadaan aku selalu disisinya dan perpisahan ini membuatnya merasa sangat menderita. Langkah demi langkah kulewati setelah menutup pintu rumahnya memberatkan inginku tuk pergi jauh darinya.

Aku tak kuasa meninggalkanya sendirian, dia hanya sendiri di dalam rumah mewah bernuansa minimalis dengan dihiasi bunga-bunga mawar di pekarangan rumahnya, sehingga setiap embun pagi dan hembusan angin sepoi-sepoi merasuk ke halaman rumah layaknya aroma terapi yang memberikan kesejukan di hati setiap penghuni nya. Tetapi warna cat biru rumah minimalis itu melukisakan birunya hati penghuninya. Dia seorang yang tak mempunyai semangat hidup walaupun bergelimangan harta warisan orang tuanya.kedua Orang tua yang sangat dicintai harus meninggalkan dunia ini dengan damai. Dia diwarisakan semua harta dan perusahaan yang telah di kelola orang tuanya sebagai aktivis yang memperjuangkan hak asasi manusia. Aku selalu ingin bertanya mengapa orang tuanya bisa meninggalkanya, dan saat aku melihat sendu wajahnya aku tak sanggup untuk bertanya satu patah kata pun. Aku hanya bisa menemani dan memberikan pelukan hangatku setiap saat. Dan aku merasa sangat dperlukannya.

Kepedihan hati gadis seusiaku ini sangat dalam. Pertama kali ku melihatnya sedang duduk di batu tempat aku untuk melihat bintang-bintang yang bertebaran di puncak bukit kota ku. Yah, aku memang sama dengan gadis itu, aku juga seorang yang broken home yang selalu melihat rumah sebagai neraka yang tak pernah ingin kusinggahi dan dengan hanya melihat semua indahnya dunia ini aku bisa semangat dalam rutinitasku yang monoton. Aku hanya melihat keluargaku sebagai penghalang pemikiranku mendalami FILSAFAT.

Merka tidak pernah setuju dengan apa yang aku lakukan dan yang aku impikan selama ini. sehingga aku harus mengikuti kemauan orang tuaku untuk belajar tentang ilmu hukum yang sama sekali aku tidak berminat di dalamnya.Tapi setelah aku mngenal gadis ini aku merasa bahwa aku masih terlalu beruntung, aku masih memounyai kedua orang tua yang utuh, dan memberikan ku nasehat setiap jalan salah ku.

Aku melangkahkan kakiku diantara rimbunya dedaunan pohon jati. Pohon besar berdempetan di kanan dan kiri jalan seakan membuat karpet merah para bintang di layar kaca yang berjalan menyusuri setiap langkah ku pergi meninggalkanya. Tunas-tunas daun mulai tumbuh di awal bulan November memberikan keindahan tersendiri dengan kuncup hijau muda dan cokelat tanah pada setiap batangnya. Sedih. Aku sangat sedih. Dia sudah menjadi separuh hidupku disini. Dia adalah semangatku menjalani semuanya. Dia memberikan motivasi dalam cerminan kehidupannya. Aku butuh dia. Terasa sangat sesak di dada karena aku tahu sedikit lagi aku meninggalkan sosok yang saling membutuhkan. Tetes air dari mata menjadi symbol tentang perihnya hatiku.

*

Bulan penuh dikawal oleh hitam pekatnya awan yang berarak bagaikan domba-domba hitam yang berlarian mengikuti hembusan angin malam. Milyaran taburan bintang ditutupi oleh layar hitam yang menuju kearah barat laut dengan perlahan. Tapi aku tahu walaupun aku tidak bisa melihat bintang saat ini. aku bisa melihat dia. Dia yang duduk di singgasanaku di temani secangkir kopi mocca kalengan kesukaanya.

“waktu yang gag tepat yah??”tanyaku dengan penuh harapan ia akan menolehkan wajah manisnya kepadaku.

“gag juga,dua minggu ini aku selalu ke tempat ini”

“hmm,,bukankah dua minggu ini selalu hujan?”dengan nada heran aku bertanya.

“yah,memang. Aku disini menunggu kamu.”jawabnya tanpa menolehkan sedikitpun paras indahnya kepadaku dan meneguk kopi moccanya.

“menungguku?? Kenapa gag langsung ke kostku aja..”

“aku pikir kamu dah gag mau nemuin aku lagi.”

Aku terdiam sesaat mendengar ucapanya, sepertinya kejadian kemarin membuatnya benar-benar menderita. Aku merogoh kantongku mengambil sekotak kecil bungkusan penuh dengan rokok yang baru saja aku beli dan menyalakannya.

“hyuuuufff”aku menarik dalam-dalam batangan berisi tembakau dan menghembuskan perlahan.

“kenapa kamu berpikir kayak gitu? Aku sedang sibuk akhir-akhir ini.”jelasku sembari mengusap mataku karena terkena asap batangan tembakau.

“aku kangen kamu”mata yang mulai berkaca-kaca menjelaskan bahwa ia seirus menantikanku.

Aku hanya menjawab pernyataanya dengan senyum manis.

“kamu benar-benar mau meniggalkan aku sendirian disini?”tetes air sudah tak terbendung di matanya yang berkaca-kaca mengalir lembut ke pipinya. Segera aku menyekanya dengan ibu jari yang sedikit kasar.

“jangan menangis, aku mohon”pintaku.

“kamu bohong kan?? Kamu bohong mau selalu nemenin aku.” dia menggoyangkan badanku sambil terus terisak-isak, seperti anak kecil meminta kepada ibunya sebuah mainan keluaran edisi baru. Tapi aku hanya bisa termangu, kupandang wajahnya, penuh dengan air mata. Sakit. Dadaku terasa sangat sakit. Saat tangisannya mulai padam kupeluk dan kuerarttkan kepalanya di dadaku.

“apakah kau merasakan sakit ini,saat melihatmu meneteskan air mata dari indahnya bola matamu” pikirku.

“jangan menangis, aku mohon.” bisikku sekali lagi. Suaraku mulai serak menahan tangis yang sudah membasahi mataku. Dan hatiku.

*

Matahari seakan tepat diatas kepalaku saat kulihat jam menunjukkan jarum panjang dan pendeknya di angka dua belas. Teriknya sang surya membuat kulitku menjadi merah karena radiasi dan efek pemanasan global yang sudah semakin parah.

“siang yang panas”batinku.

Sambil mendengarkan dendang lagu indie kususuri trotoar ke arah kostku. Kulihat ikan-ikan kecil sedang berenang dengan kumpulanya menahan arus air di parit. Layaknya tarian indah mengantarku pulang dengan senyum simpul melihat keserasian buntut melambai-lambai.

Selang beberapa waktu langit tampak gelap memberikan kesejukan angin sepoi-sepoi berisi harumnya air sebelum turunya badai. Awan-awan pekat dengan kilat-kilat menyambar dalam kanvas atmosfer.

“derrrrrrr”suara menggelegar kilat sudah mulai menggema.

Aku teringat dia. Apa yang dilakukanya saat ini. aku teringat saat dia mendekapku kencang dalam gelap ketika lampu di rumahnya padam. Dia tidak berteriak histeris seperti biasanya gadis lainya. Dia hanya memjamkan matanya dan berkata

” aku senang kamu disini ”.

“aku akan selalu disini menemani kamu”. Janjiku dengan yakin yang ternyata membuat dirinya menaruh banyak harapan kepadaku.

Tapi apa yang sekarang hendak kulakukan berbeda dengan apa yang aku janjikan, aku harus meninggalkanya. Walaupun hanya berbeda jarak yang sebenarnya adalah dekat, dia tetap merasa aku akan meninngalkanya. Kurasa dengan kondisi keuangan nya yang diwariskan kedua orang tuanya memudahkannya jika ia ingin bertemu denganku.

Aku akan pergi ke negara seberang untuk meneruskan sekolahku disana. Sekolahku?. Tidak, aku tidak sekolah disana, itu hanya alasanku untuk bisa cepat pergi kesana. Aku harus mengurus sesuatu yang memang aku sendiri sudah merelakan itu. Aku sudah merelakan hidupku. Hidup yang selalu kuusahakan sebagai orang yang tidak sakit, seorang yang mampu menjalani hidupnya dengan luar biasa. tiada orang yang sempurna, aku hanya bisa berpikir sperti itu. Aku hanya manusia yang mempunyai kekurangan yang dilengkapi kelebihan.

Dan sekarang aku adalah orang pengecut yang menampilkan semua kelebihanku pada seseorang gadis yang berharap akan selalu bersamaku. Ini semua salahku. Aku hanya berani untuk memperlihatkan sisi terangku dimana sisi gelapku selalu menunggu untuk meyerang kehidupanku.

*

“gggerrrrrkkkkk, gggerrrrrkkk” getar ponsel di meja membuatku terjaga.

“jam berapa ini?”desahku saat kulihat jendela kamarku masih menampakkan bulan sabit seakan memberikanku senyuman cerah pada kegelapan kamarku. Kulihat ponselku tertulis di layar LCD “you have 1 message”. Tanpa pikir panjang kubaca pesan itu.

mas,mama sudah urus semuanya. Kamu tinggal pulang ke Jakarta lusa.”

Hmm, selalu terburu-buru, sifat jelek mamaku yang sudah menjadi kebiasaan menurutku. Besok hari terakhirku di semarang. Kota penuh kenangan dimana aku menghabiskan 4 tahun hidupku untuk belajar dan memperbaharui hidupku.

Aku memang sengaja di tempatkan disini oleh orang tuaku, agar aku tidak bisa bertemu dengan teman-teman dekatku. Aku bersama mereka selalu berbuat ulah dimana-mana. Sekolah SMA manapun bahkan tidak mau menerima kami karena reputasi buruk kami disekolah terdahulu. Bagiku hidup menghajar guru killer, minum minuman terlarang di kelas, membuat tawur adalah hal biasa yang kami lakukan. Apalagi jika mereka mengusik kehidupan kami.

Sudah berulang kali kami ditahan, tapi sudah berulang kali pula kami bebas. Itu semua berkat orang tua kami yang memang mempunyai kemampuan membayarkan setiap jaminan dan kekuasaan orang tua kami di kepolisian.

Kami, aku dan kedua temanku mulai bosan dengan kehidupan seperti itu. Kami beralih haluan kebiasaan kami pada saat kami mengenal pengedar narkoba yang mulai masuk dalam kelompok kami. Kami terlena dengan nikmatnya dunia pada saat itu, bahkan sampai kami bertiga mendengar bahwa sang pengedar itu memiliki penyakit Hiv/Aids. Kami tetap asik bergumul dan memakai barang haram untuk kesenangan sesaat kami. Sampai pada saatnya kami akhirnya juga tahu, jikalau kami sudah positf mengidap penyakit yang sampai sekarang pun belum ada penangkalnya.

Aku kaget. Aku malu. Aku marah pada hidup lama ku yang membuat hidupku semakin cepat. Setelah mengerti hidupku tidak akan lama lagi, aku bergantung pada obat-obatan medis yang memperlambat kinerja penyakit hiv/aids menggerogoti kekebalan tubuhku. Setiap hari sebelum aku bermimpi aku harus menelan puluhan obat berbagai bentuk dan rasa. Hari lewat hari aku merasa tubuhku lebih baik, setiap terapi yang kujalani kunikmati dengan rasa syukurku melihat kedua temanku yang terbujur lemah di tempat tidurnya.

Mereka sudah mati, walaupun tubuhnya masih bernafas. Pertama kali mereka mendengar penyakit yang menimpa mereka, jiwa mereka sudah mati saat lingkungan mereka mencemooh dan mengasingkan mereka. Tetapi tidak untukku, aku lari menghindari semuanya. Aku mencari hidupku di kota semarang ini. aku menjadi ciptaan baru.

*

Mendengar kabar dari mamaku aku segera mengemas barang-barang penting untuk kubawa. Mamaku adalah orang terhebat di dunia. Sedikitpun tak pernah darinya lelah dan putus asa melihat keadaan ku. Dukungan dan doanya membuatku mengerti dan merasakan sayang yang sebenarnya. Sayang yang butuh kesabaran, pengorbanan, dan cinta kasih.

“huhhh,ternyata bajuku banyak juga”keluhku sembari memasukkan pakaian kotor yang belum aku cucikan ke tempat cucian baju langgananku. Kumasukan semua pakaianku malas-malasan. Dan aku melihat sesuatu. Boneka. Boneka beruang putih bersyal merah yang menjadi jimat keberuntunganya.

“sejak kapan boneka ini disini?”tanyaku dalam hati.

“Boneka yang selalu ada di dalam tasnya kemanapun dia pergi selama ini berada di dalam kotak pakaian kotorku.” Dengan penuh keheranan aku membetulkan syalnya yang kendor.

“aku harus mengembalikanya sekalian menyampaikan perpisahan.”pikirku.

Butuh waktu dua kali jarum jam pendek mengitari angka dua belas untuk mngemasi semua barang-barang kamar berantakanku. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, pantas saja langit sudah memberika warna oranye pada putihnya awan tebal. Aku mengambil jaket jumperku yang berbahan nylon untuk menghangati badan dan hatiku yang sedikit membeku seiring mulai dinginya cuaca dan debar jantungku untuk menemuinya.

Kuletakkan boneka beruang putih di jok mobilku bersamaan berkas-berkas skripsiku yang membuatku mendapatkan nilai cumlaude. Kutancap mobilku melewati pohon-pohon besar ke aeah rumah nya. Aku sudah tidak sabar menantikan rumah biru bernuansa minmalis beraroma melati yang hamper setiap hari selama 4 tahun hidupku di kota ini, kuhabiskan waktuku disana dan bersamanya. Hanya bersamanya.

*

“knock knock knock”ku ketuk daun pintu rumah besar terbuat dari kayu mahoni sehingga menimbulkan wangi selaras dengan pekarangan bunga melati.

“gilang yah?”teriak seseorang di dalam rumah besar berlantai dua itu, aku sudah tak asing dengan suara kecil merdu layaknya burung pipit yang bercengkrama saat lonceng gereja mulai di bunyikan.

“iyahh, ini aku”teriaku membalas.

Setelah lama sekali pintu pun terbuka, dan aku sempat terssentak melihat sosok gadis kecil, lebih mirip bidadari daripada seorang gadis kecil. Dia mengenakan gaun hitam yang memperlihatkan jenjang lehernya, di bagian lehernya menguntai kalung perak berbandul bulatan kecil dan gaun sepanjang betis dipadu dengan high heels bertali sangat panjangmembalut indahnya kaki mungilnya. Berbeda sekali denganku yang sekarang dihadapanya memakai celana jeans sudah belel dan memakai kaos putih bergambar malioboro disertai jaket jumper lamaku. Sekilas aku malu melihat seorang lebih mirip bidadari harus bertemu dengan orang memakai baju apa adanya. Yah,ini memang gayaku,dengan badan tinggi dan rambut ikal sebahu tak juga pernah ku ubah selama berkuliah.

“ada apa nih? Kamu mau pergi?”tanyaku heran.

“gag kok”senyum simpul menambah kehangatan dalam kemanisan riasanya.

“trus.. mau kemana?”tanyaku lagi.

“abisnya mau ketemu kamu yang terakhir kan.”jawabnya percaya diri.

“loh kok kamu tau?”tanyaku heran dan penuh selidik.

“setelah minggu kemarin setiap hari aku berdandan seperti ini, ini khusus loh Cuma buat kamu.”sambil menarik tanganku, ia mengajak aku duduk di ruang tamunya. Aku terpana mendengar selama seminggu dia mengenakan jubah indah dan kecantikannya malam ini tidak ada satupun kaum adam yang akan melepaskan pandangan dari bidadari kecil ini.

“aku kesini maw ngembaliin boneka kesayangan kamu nih.”kusodorkan boneka beruang bersyal merah ke pangkuanya.

“ohh,aku emang sengaja ninggalin di kamar kamu. Biar kamu gag kesepian di kostan sendirian.”

“makasih yah, tapi kayaknya kamu lebih butuh ini daripada aku”jawabku sembari menyodorkan boneka beruang itu.

“gag mau ah, kamu ajah ngasih gitar kesayangan kamu wat bisa nemenin aku, sekarang aku udah jago loh main gitarnya. Kita tukeran ajah yah.”katanya penuh harap.

“baiklah”Aku tak sanggup menolak permintaan bidadari kecil ini.

Kita terdiam sejenak, aku memainkan boneka baru milikku. kulihat tanganya bergetar. Dia grogi. Tapi kenapa?pikirku.

“dah lama yah semenjak pertemuan kita?”ia mengenggam tanganku.

“iyah”kueratkan genggaman yang sudah lama kurindukan.

“hmm, ada yang mau aku tunjukin ke kamu. Ikut aku yu” dia berjalan menaiki tangga melingkar, di setiap anak tangganya terbuat dari marmer yang memantulkan sinar lampu ruang tengahnya. Aku hanya mengikuti langkah kecilnya menuju sebuah ruangan gelap. Dia berusaha menagmbil sesuatu di dalam kegelapan. Setelah beberapa saat dia menemukan barang yang dicarinya, pemantik api. Ia menyalakan pemantik itu dan mulai membakar lilin mengelilingi ruangan gelap yang mulai terlihat walaupun remang-remang.

“hei, ada apa ini?” tanyaku dengan penuh kecurigaan.

“sssttt” dia menutup mulutnya dengan jari telunjuk. Dia melanjutkan menyalakan lilin-lilin yang mengitari ruangan ini. dan mulai terlihat dinding yang dihiasi oleh banyaknya foto yang aku rasa adaalah foto dirinya yang selalu aku ambil dan dia menjadi modelnya. Kususuri dinding penuh dengan fotonya itu, aku sempat tersipu melihat foto dirinya saat pertama kali memainkan lagu dengan gitar. Disaat itulah pertama kali ku merasakan wanita tercantik bernyanyi dengan gaya sangat laki-laki.

“taraaa” teriaknya membangunkanku dari lamunanku.

“wow, kamu mencetak semua ini?”

“gag kok. Yang cetak kan percetakanya.” Sambil terkekeh melihat mukaku yang sedikit kesal.

“ayoo duduk” tak kusadari ada sofa yang di depanya ada sebuah teleskop panjang terletak di jendela ruangan ini. kuletakkan sejenak boneka beruang di kusen jendela besar nya.

“kayaknya aku familiar dengan benda ini?”tanyaku kepadanya.

“hehe, ini memang teleskop yang selalu kamu lihat di tokonya mas jo.” Jelasnya sambil mengangkat tangan kananya membuat kedua jarinya membentuk huruf V.

“ahhh, curang banget.”

“makanya kalo mau make teleskop ini kamu harus kesini dulu”

“oke deh,ngomong-ngomong buat apa semua ini.” tanyaku heran.

“hmm,karena ini hari terkahir kamu disini. Aku ingin ngomong sesuatu.” Dia menundukan kepalanya. Kulihat tanganya bergetar lagi.

“wah, apa tuh. Sampe harus bikin kyak beginian segala.” Aku memecaah suasana.

“aku,mmmm. Aku,mmmm.” Kulihat matanya sangat gugup untuk mengatakan sesuatu itu. Kupegang tangan lembutnya, kueratkan gengamanku seperti memberikan kekuatan padanya untuk mengatakan sesuatu itu.

“aku ingin kamu menikahiku” dengan nada cepat tapi lantang ia mengatakan sesuatu yang sangat jarang dikatakan bagi wanita. Aku tercekat mendengar ucapanya, tenggorokanku rasanya sperti ada yang mencekik sehingga aku benar-benar tidak bisa bernafas. Kulepas genggamanku, ku berdiri dan berjalan menyusuri dinding-dinding penuh dengan foto dirinya yang semuanya kuambil dengan kameraku,pandanganku menerawang jauh melihat dirinya masih duduk di sofa panjang yang sangat nyaman jika seseorang mendudukinya.

“aku juga gag tahu kenapa aku bisa seberani ini” dia berusaha memecah kesunyian dan kebingunganku. Kulihat dia melayangkan pandangnya jauh ke langit.

“tapi aku harus berangkat besok, aku harus sekolah lagi disana” jawabku tanpa memeduilkan perasaanya.

“apa benar?” tanyanya sembari bangun dari tempat duduknya berjalan ke arahku layaknya putri dari kerajaan sedang berjalan.

“apa benar kamu kesana hanya untuk melanjutkan kuliah kamu lagi?” tanyanya lagi dengan nada yang sedikit keras. Aku terpaku. Aku tertunduk tidak bisa melihat kedua matanya.

“gilang, pandang mata aku.” aku tetap tidak bisa menaikan wajahku.

“kamu gag tahu chia, kamu belum tahu aku” sempat kupanggil nama panggilanya yang sangat jarang kulakukan, karena nama cintya seperti aku memanggil nama mamaku.

“aku tahu kamu”jawabnya yakin

“apa karena kamu tahu namaku,kamu tahu dimana aku tinggal, kamu tahu kesukaanku, kamu bisa bilang tahu aku? kamu sama sekali belum tahu aku. dan gag akan pernah kamu tahu aku” jawabku dengan nada yang mulai meninggi.

“apa kamu pikir Cuma karena sakit kamu aku gag bisa nerima kamu.” Teriaknya sperti persis di telingaku. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca setelah dia berkata sakit.

“maksud kamu? Kamu tahu kalo aku?” entah kenapa aku punya keberanian untuk memandang matanya. Walaupun dengan penuh keheranan kuberanikan didirku untuk bertanya.

“kalo kamu sakit Aids kan?” jelasnya tanpa ragu-ragu.

“darimana kamu tahu? Gimana bisa kamu tahu penyakit yang selama ini kututupi?” kudekatkan wajahku dengan wajahnya.

“kamu tuh gag pinter bohong. Mana ada seseorang yang sakit pilek sampe 2 tahun gag sembuh. Mana ada orang sakit pilek tapi obatnya bermacam-macam. Aku gag bodoh, aku tahu ada sesuatu dari kamu yang gag akan pernah kamu kasih tahu ke aku. Makanya aku ambil beberapa dari obat kamu dan aku tanyakan ke dokter pribadiku.” Dengan percaya diri dan beruntaian air mata dia mengungkapkan semua apa yang diketahuinya.

“jadi sekarang aku gag usah repot-repot yah, kamu sudah tahu semua kan? Jadi akan lebih mudah kalo aku ninggalin kamu.” Kutatap dirinya sembari menyandarkan badanku ke dinding yang penuh dengan fotonya.

“kamu memang pembohong terbesar di dalam hidupku. Spertinya kamu memang gag pernah cinta aku.” untaian air matanya semakin deras.

“tahu apa kamu tentang cintaku, tahu apa kamu tentang semua isi hatiku selama ini”kudengar tangisannya semakin terisak-isak. Tetapi tetap saja aku berteriak kepadanya.

“kalo memang aku gag cinta kamu, buat apa selama 4 tahun ini aku selalu bersama kamu. Untuk apa aku selalu nemanin kamu disini. Seharusnya aku bisa senang-senang di luar sana dengan hidupku yang akupun gag tahu kapan bakal berhenti. Untuk apa aku selalu disini menemani kamu, dukung kamu kalo hidupku juga butuh dukungan dari orang lain. Butuh pengorbanan seperti apalagi chia untuk ngungkapin semua rasa sayang aku ke kamu.”nada suarku menurun karena tak sanggup mengatakan kata yang hanya akan menyakitinya. Tak terasa air mata pun menetes, mengalir diantara pipi dan hidungku. Ia mengusap matanya dengan jari yang membuat riasan eyeshadownya terlihat luntur.

“lalu kenapa lang? kenapa kamu gag mau nerima aku sebagai orang yang akan selalu nemenin kamu sampai akhir hari kamu?” kulihat matanya sangat tulus. Kuletakan jemariku di pipinya dan mengusap air mata yang tiada berhenti.

“aku gag pantas ngedapetin itu semua, karena aku memang bukan orang yang pantas ngedapetin itu. Kamu terlalu indah untuk bisa kumiliki, buat aku kamu adalah kado yang diberi Tuhan buat ngelengkapi hari-hari baruku. Kamu pantas ngedapetin yang lebih dari aku, jauh lebih dari aku.”kurasakan begitu sakit stelah aku mengatakan itu semua, jujur jauh di dalam hatiku aku tidak akan bisa merelakan seseorang yang sudah menjadi separuh hidupku untuk pergi meninggalkan aku. tapi ini yang terbaik. “yah,ini memang jalan yang terbaik bagi dia walaupun tidak untukku.” Batinku menangis.

“kamu salah”sergahnya sembari menggeleng-gelengkan kepala mungilnya,

“kamulah semua jawaban yang aku tanya ke Tuhan, setelah papa dan mama aku meninggal karena kecelakaan yang itu semua aku penyebabnya. Aku dah gag punya semangat buat ngejalanin hidupku. Aku merasa bersalah dengan apa yang dah aku perbuat, tetapi kamu merubah semua pandangan aku. saat aku tahu kamu sakit seperti itu dan masih bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. Aku meneladani kamu, kamu adaalah kesaksian hidup bagiku.”aku terperangah mendengar semua kata-katanya. Ternyata selama ini akulah yang tidak mengenal dia. Aku pun tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Aku hanya bisa memeluknya tanpa tahu siapa dirinya dan bagaimana isi di hatinya.

“karena keputusan kamu sudah bulat, aku boleh minta satu hal? Satu hal yang harus kamu dan aku jalani setelah ini.” dia memandangku jauh kedalam seaakan mengerti apa yang aku rasakan.

“apa?” jawabku bertanya. Kurasakan tenggorokanku masih terasa sakit.

“setelah inii aku mau kita berdua gag akan pernah bertemu lagi, aku ingin kamu menjadi kenangan terindah ku bukan menjadi bagian hidupku lagi.”katanya. inikah akhir ceritaku bersamnya, di ruang remang yang penuh dengan foto dirinya tersenyum.

“baiklah”jawabku dengan spontan,karena kutahu kata-kata seperti itulah yang harus keluar darinya agar bisa menjalani hidup lebih baik lagi daripada hidup bersamaku. Dia memelukku erat,dan kubalas dengan pelukan lebih erat dariku. Kulihat foto dirinya yang semuanya tersenyum kea rah ku tetapi boneka beruang yang kuletakkan di jendela seakan menangis melihat haru nya perpisahanku denganya.

“maafkan aku”kuberbisik pelan di telinganya dan mengeratkan pelukanku lagi

*

Kutancap mobil swift berwarna hitam kelam melewati jalan yang di kanan dan kirinya dipenuhi oleh pohon-pohon jati. Semakin ku jauh dari tempat kediamannya semakin kurasakan perih memenuhi hatiku. Kunyalakan radio kudengarkan lagu-lagu yang menggema di antara telingaku. Sayup-sayup kudengar lagu yang mulai melantun.

My life is brilliant.

My life is brilliant.

My love is pure.

I saw an angel.

Of that I'm sure.

She smiled at me on the subway.

She was with another man.

But I won't lose no sleep on that,

'Cause I've got a plan.

You're beautiful.You're beautiful.

You're beautiful.Its true

I saw your face in a crowded place,

And I don't know what to do,

cause i'll never be with you

Yes, she caught my eye,

As I walked on by.

She could see from my face that I was,

flyin high,

And I don't think that I'll see her again,

But we shared a moment that will last till the end.

You're beautiful. You're beautiful.

You're beautiful.Its true

I saw your face in a crowded place,

and i dont know what to do

cause Ill never be with you.

You're beautiful. You're beautiful.

You're beautiful, it's true.

There must be an angel with a smile on her face,

When she thought up that I should be with you.

But it's time to face the truth,

I will never be with you.

Kumerasa sedikit tenang dengan mendengar lyric lagu ini, yah kuharap di suatu hari nanti aku hanya bisa seperti ini. Harus seperti ini karena kenytaanya memang seperti ini. dan lagu ini mengantarkan aku pulang dengan harapan aku mencintai dan tak bisa memiliki.


7 Komentar:

Pada 8 Februari 2009 06.28 , Anonymous Sacred Avalon mengatakan...

Narsis lo...hehe.
Jangan sampai lo gantung diri setelah baca komen ini :b
Kalo mo posting tu mbok dicek dulu eydnya. salah ketik itu jangan dianggap remeh temeh, very annoying dan berceceran dimana-mana tuh.
Gw baca cerita lo tuh bak meniti rel kereta tanpa tahu kiri kanan environtmentnya kaya apa.isinya kabut...
putiiihh...semua. Artinya.....penggunaan plot flash back itu gampang-gampang susah lho lang..
Harus ada satu korelasi yang menjaga benang merah cerita tetap terasa nikmat dan utuh. dan sepertinya u kurang berhasil dalam hal itu. Mungkin lebih baik kamu penggal menjadi sub bab dengan sub judul...so kalo gw capek berjalan di kiri kanan masih ada warung-warung kecil buat gw mampir. :b.
kekurangan yang lain...deskripsi lo masih sebatas visual. Deskripsi secara emosional (yang dalam hal ini menjadi inti cerita lo - perspisahan-) sangat kurang. Sehingga lo sebagai story teller seperti bertindak sebagai tokoh candid yang tidak pernah mampu membedah isi otak dan hati kreatur ciptaan lo sendiri.

ngga terasa banyak banget. Tapi intinya satu kok....Keep writing n READING. :b. U gonna be great if believe.

 
Pada 8 Februari 2009 06.33 , Blogger gorynigga mengatakan...

yeahhh..
jahahhahahaaa...
okehh dhee..
ntuhh sambil banjir2 soalnyahh nulis e..

but this is still great victory if i done with this tale..
ciakakkakaaa..

 
Pada 8 Februari 2009 06.47 , Anonymous Sacred Avalon mengatakan...

Hehe....
take it or leave it kok lang hahaha...kritikus tanpa experience kayak aku tahu apa about sastra. baca pesen yang terakhir aja...keep writing n Reading :D..
Dienteni terusannya...ndang di edit tuh yang salah2 ketik.

 
Pada 8 Februari 2009 06.54 , Blogger gorynigga mengatakan...

awigth brothaa...
ciakakka...

 
Pada 8 Februari 2009 23.49 , Anonymous wulan pingkan mengatakan...

hemm baguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuussss kok.
temen2 aku juga bilang kayak gitu mpret..
mreka nunggu next bab nya, aku juga loh hehhe..

janga bikin orang penasaran dengan kelanjutannya

 
Pada 9 Februari 2009 00.33 , Blogger gorynigga mengatakan...

waw..
nyang benerr thuu..
nti bab 2 nyah jgn tercenggang yahh..
seminggu lagii dehh..
ditungguu ajahh yhaa..

 
Pada 17 Maret 2009 05.19 , Anonymous Anonim mengatakan...

gor, keren!
i like it..
sorry baru sempet baca.
kerenkeren.
jarangjarang alur crita'a yg ky gini..
bagus!
lanjutkan!!
crita antar paragraf'a, yg lw batesin agak kaku.
terlalu cepet..
iia, tgl bagian pengeditan..
kl jd, w minta iia!
pelanggan setia d..
ok?
hehhehe

-uchan-

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda